Pasukan Lantang Bangngia : Percuma Lapor Polisi, Presesi Polri Hanya Dongeng

  • Whatsapp
Aksi UNRAS di depan Polrestabes Makassar

newszonamerah.com-Proses hukum dianggap tumpul dan tebang pilih, ratusan pasukan lantang Banggia Aksi unjuk rasa di depan Polrestabes Makassar, Atas kasus kekerasan dan penganiayaan yang mengakibatkan seorang yang ibu keguguran.

Menurut korban, berawal sejak tanggal 26 bulan 5 / 2021.

“Saya dipukul berulang-ulang, setelah kejadian itu saya langsung melakukan pelaporan ke Polrestabes Makassar sekaligus melakukan Fisum sebagai bukti atas tindakan kekerasan/penganiayaan yang saya alami.” Imbuhnya. Jumat (19/11/2021)

Ini karena saya sudah tidak ada kecocokan lagi dalam rumah tanggaku, makanya saya bersikeras untuk bercerai, tapi mantan suamiku tidak menerima itu semua.

Akan tetapi saya kembali mengalami aksi pemukulan/penganiayaan itu di bulan berikutnya.

Lanjut Korban Saat di Mintakan Keterangan,
pemukulan itu terulang kembali dan oknum pelaku selalu mengancam untuk membunuh kalau saya melakukan pelaporan ke polisi, sampai-sampai satu persatu anakku juga kena pukulan bapaknya. dan kejadian itu masih berlanjut sampai saya sudah menikah sekarang.

hal itu terjadi karena sama sekali tidak ada tindakan perlindungan hukum yang saya dapatkan, ini semacam ada pembiaran oleh pihak kepolisian untuk tidak menangkap mantan suamiku itu.

“dari tanggal 27 Mei, 11 Juni, 15 Juli, 30 September dan 14 November, saya keluar mau menjual untuk kebutuhan anak tapi baruka sampai di jualan langsung saya dicekik dari belakang dan didorong” terang nya

sesudah itu dia tidak berhenti bilang-bilangi saya dan mengancam untuk membunuh kalau saya masih keluar menjual. tidak lama kemudian dia mulai meninju perutku dan memukul kepalaku memakai sendal dan menjitak kepalaku lalu menendang kakiku. Akibat dari tindakan kekerasan/penganiayaan yang saya alami, pasca kejadian saya mengalami pendarahan hingga dibawa ke Rumah Sakit

“Sebenarnya saya mau kembali melaporkan tindakan kekerasan/penganiyaan, baik yang di alami anakku dan saya sendiri dibeberapa bulan terkahir. Tapi aduan laporan saya yang pertama belum ada titik terangnya hingga detik ini, sehingga saya masih butuh waktu untuk tenangkan diri ” ungkapnya Korban

Menanggapi hal tersebut, Rusdi selaku Jendral Lapangan Pasukan Lantang Bangngia, dalam orasinya menyampaikan bentuk kekecewaan dan mosi tidak percaya terhadap institusi kepolisian Polrestabes Makassar atas proses penindakan hukum yang tumpul dan tebang pilih.

Disatu sisi, kami merasa tidak nyaman atas sikap dan pelayanan oleh pihak penyidik, mohon maaf sangat terlihat Arogan.

“kami sikap ini tidak seharunya diperlihatkan terhadap rakyat, semestinya rakyat dilayani dengan ramah, baik dan penuh dengan sopan santun, sesuai dengan PP No. 2 Tahun 2002 dan PP No. 2 Tahun 2003″ dalam orasinya” ucapnya

Disisi lain, sama sekali belum ada progres sejak kasus itu dilaporkan hingga detik ini. tentunya hal ini menunjukkan lemahnya kemampuan Aparat Penegak Hukum dalam menuntaskan berbagai macam aduan yang disampaikan oleh masyarakat.

seperti halnya aduan laporan oleh saudari korban Andriyani, kepihak kepolisian Polrestabes Makassar dalam hal ini, Kanit Idik l Tipidum Sat. Reskrim Polrestabes Makassar atas dugaan tindak pidanan kekerasan dalam rumah tangga, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 44 UU RI No.23 tahun 2004 tentang PKDRT.

Mengingat bahwa aduan kasus tersebut sudah lumayan memakan waktu, akan tetapi sampai pada detik ini belum ada langkah konkrit yang dilakukan oleh pihak yang berwenang, misalnya memberikan perlindungan hukum terhadap pihak korban.

“sehingga kami menganggap bahwa pihak Polrestabes Makassar tidak serius dalam memberikan pelayanan yang sunguh-sungguh terhadap saudari korban Andriyani. “Ujar orator yang lain

Yang sangat kami sayangkan oknum pelaku hingga detik ini, belum memiliki status hukum yang jelas. sama sekali tidak ditahan/ditangkap oleh pihak Polrestabes Makassar guna menindaklanjuti proses aduan tersebut.

Menurut pihak korban ada 1 pernyataan yang menohok disampaikan oknum pelaku,

“katanya pergi maki melapor, mauku tahu siapa Polisi yang berani tangkapka, tentunya hal ini menurut kami, oknum pelaku memiliki pertalian yang erat dengan oknum aparat ‘Kenalannya’ sehingga sangat berani mengeluarkan pernyataan demikian.

Harusnya oknum pelaku sudah ditetapkan statusnya sebagai tersangka dan ditahan, tapi justru itu yang tidak dilakukan oleh pihak Polrestabes Makassar.

“hal ini mengindikasikan bahwa pihak Polrestabes Makassar dalam hal ini, Kst. Reskrim Polrestabes Makassar, Kanit Idik l Tipidum Sat. Reskrim Polrestabes Makassar, diduga berupaya melindungi pelaku atas tindakan kriminalnya. “Tegas Jendral Lapangan”

Sehingga kami meminta kepada Bpk, Kapolrestabes Makassar yang baru untuk bertindak dengan tegas, copot Kst. Reskrim Polrestabes Makassar, Kanit Idik l Tipidum Sat. Reskrim Polrestabes Makassar karena diduga melakukan pembiaran terhadap proses hukum yang terjadi, serta tangkap dan adili oknum pelaku penganiayaan.

“Oleh karena itu, kami beri waktu 3×24 Jam kepada pihak yang berwenang dalam kasus ini, jika tidak ada kejelasan sama sekali maka kami akan kembali melangsungkan aksi unjuk rasa di depan Polrestabes Makassar dan Polda Sulsel hingga kasus ini terlihat dengan terang benderang tuntas. “Tutup Jendral Lapangan

(Sahar)

Pos terkait