Perseteruan AS-Iran, Rupiah dan Mata Uang Asia Anjlok

Ilustrasi Uang Indonesia (Sumber Foto Istimewa)

Newszonamerah.com – Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (2/1/2019) akibat situasi di Timur Tengah yang memanas.

Rupiah sebenarnya membuka perdagangan dengan menguat 0,06 persen ke level ke Rp 13.875/US$, tetapi tidak lama langsung berbalik melemah. Sebelum tengah hari rupiah sudah melemah 0,26 persen ke Rp 13.920/US$.

Bacaan Lainnya

Pelemahan rupiah semakin tebal di sore hari hingga 0,33 persen ke level US$ 13.930/US$, sebelum memangkas pelemahan dan mengakhiri perdagangan di level US$ 13.920/US$.

Mayoritas mata uang utama Asia juga berguguran pada hari ini, hingga pukul 16:05 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang terburuk setelah melemah 0,76 persen. Peso Filipina dan rupee India melengkapi tiga besar dengan melemah 0,67 persen dan 0,5 persen

Sementara yen Jepang menjadi mata uang terbaik dengan menguat 0,59 persen.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Benua Kuning.

Peluang Rupiah Menguat Buyar Akibat AS vs Iran

Foto: Rupee Mata Uang India (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Rupiah sebenarnya punya modal untuk menguat pada hari ini, sentiment pelaku pasar sedang bagus-bagusnya yang tercermin dari Wall Street yang kembali mencetak rekor tertinggi, serta penguatan mayoritas bursa saham Asia dan Eropa pada Kamis kemarin.

Selain kesepakatan dagang fase I yang akan diteken pada 15 Januari nanti, stimulus moneter dari bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) juga disambut baik pelaku pasar global.

PBoC memberikan “kado” awal tahun dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM), kebijakan tersebut membanjiri ekonomi China dengan likuiditas senilai 800 miliar yuan.

Hal tersebut membuat rupiah menguat begitu perdagangan hari ini dibuka, tetapi sentiment pelaku pasar yang tiba-tiba memburuk membuat langkah rupiah untuk melanjutkan penguatan buyar.

Kemungkinan terjadinya perang di Timur Tengah menjadi penyebab memburuknya sentiment pelaku pasar.

Hal ini bermula saat Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Irak mendapat serangan pada Selasa (31/12/2019) yang membuat Presiden Donald Trump geram.

Melalui akun Twitter-nya Trump menyalahkan Iran terhadap serangan Kedutaan AS untuk Irak yang menewaskan warga AS dan melukai banyak lainnya.

“Iran membunuh kontraktor Amerika, melukai banyak orang. Kami akan merespon itu, dan akan selalu merespon. Sekarang Iran merancang serangan di Kedutaan AS di Irak. Mereka akan bertanggung jawab penuh. Sebagai tambahan, kami harap Irak menggunakan pasukan mereka untuk melindungi Kedutaan, dan diberitahukan!” cuit Trump.

Trump bahkan mengancam akan membalas Iran akan tindakan tersebut.

“Iran akan bertanggung jawab penuh atas tewasnya beberapa orang, atau kerusakan yang ditimbulkan di fasilitas kami. Mereka akan membayar dengan HARGA YANG SANGAT MAHAL! Ini bukan Peringatan, ini adalah Ancaman. Selamat Tahun Baru!” sungut Trump.

Ancaman Trump terbukti pada hari ini, CNBC International mewartakan dalam serangan udara di Baghdad Jenderal Pasukan Elit Iran, Qassim Soleimani tewas dalam serangan udara bersama dengan wakil komandan milisi Iran atau yang dikenal dengan Popular Mobilization Forces (PMF). PMF menyatakan AS ada dibalik serangan tersebut.

Pentagon sudah mengkonfirmasi serangan yang menewaskan jendral serta Iran serta deputi komandan PMF tersebut.

Tewasnya dua tokoh penting Iran tersebut dikabarkan dapat membuat situasi di Timur Tengah semakin panas, Iran dan PMF kemungkinan akan membalas AS dan Israel.

Perang AS vs Iran kini sudah di depan mata, pelaku pasar tentunya mengalihkan investasinya ke aset-aset aman, dan untuk sementara mengindari aset berisiko. Dampaknya, rupiah yang baru saja melaju harus putar balik mundur. Rupiah harus mencatat pelemahan dua hari beruntun di awal 2020.

(CNBC/RZM)

Pos terkait