Proyek Saluran Irigasi Senilai Rp. 2,5 M Di Wonorejo, Diduga Tak Sesuai Spesifikasi.

  • Whatsapp
Proyek Saluran  Irigasi Senilai Rp. 2,5 M Di Wonorejo,  Diduga Tak Sesuai Spesifikasi.

 

Bacaan Lainnya

Radar Istana – Simalungun.

Pekerjaan proyek saluran irigasi air dengan nilai kontrak Rp.  2. 501. 242. 009. yang dikerjakan oleh PT. Toba Nusa Indah  dan penanggung jawab UPT Pengelolaan Irigasi Bah Bolon Dinas Sumber Daya Air Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sumatera Utara, di Desa Wonorejo, kecamatan Pematang Bandar, kabupaten Simalungun, dalam pengerjaannya diduga tidak sesuai spesifikasi.    

Warga yang sehari – harinya bercocok tanam disekitar lokasi, kepada Radar Istana, Kamis (29/07/2021) mengatakan  bahwa Lining penahan erosi saluran air tidak seluruhnya mencapai ketebalan 30 centi meter. Dibeberapa titik tampak ketebalan cuma sekira 26 dan 28 centi meter, sehingga berakibat munculnya retak – retak pada Lining meski baru beberapa hari dikerjakan. 

Ketebalan Lining berupa pasangan batu Padas dengan plesteran pada proyek saluran irigasi sangat penting dengan ketebalan 30 centi meter, namun pada pengerjaan proyek saluran irigasi di Desa Wonorejo rekanan diduga melakukannya dengan ketebalan bervariasi.

” Belum selesai dikerjakan aja dibeberapa titik Lining saluran sudah retak, uda ditambal  pake plesteran semen tapi retak lagi,” ujarnya warga.

Lanjut warga, keretakan pada Lining  saluran irigasi desa Wonorejo sebelum proyek rampung dikerjakan, menurutnya juga disebabkan karena saat pengerjaan campuran semen dengan pasir tidak sesuai, sehingga membuat selimut beton atau plesteran menjadi mudah pecah dan rusak.

” Cemana gak retak – retak, campuran semen sama pasir 1 banding 6, bakal gak tahan lama bangunan ini nantinya,” papar warga lagi.

Lebih rinci lagi warga menyebutkan, awal  pengerjaan  tampak pihak rekanan tidak melakukan pengerukan lumpur dari lapisan irigasi, padahal seharusnya lapisan lumpur dibuang di pinggir saluran, selanjutnya bekas kerukan tersebut diangkut menggunakan truk dan dibuang ke tempat lain. Temuan lainnya adalah pekerja tidak semuanya dilengkapi dengan alat keselamatan kerja, sehingga dapat membahayakan pekerja.

“Sepertinya proyek ini kurang pengawasan dari rekanan dan pihak penanggungjawab proyek, sehingga pelaksanaan pekerjaan diduga tidak memenuhi standard, selain para pekerja yang tidak dilengkapi dengan alat keselamatan kerja,” tutup warga.

Sampai berita ini diterbitkan, Radar Istana sudah mencoba menemui pengawas lapangan dari PT. Toba Nusa Indah namun tidak dapat ditemui.

Begitupun juga penanggungjawab proyek dari UPT Pengelolaan Irigasi Bah Bolon Dinas Sumber Daya Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sumatera Utara, belum dapat dikonfirmasi.

(Sahriani)

Pos terkait