Warga Kecewa, Kualitas Proyek di Paluta “Amburadul”

Pekerjaan pembangunan Infrastruktur di Kabupaten Paluta yang amburadul

Newszonamerah.com – Banyaknya pekerjaan proyek di Dinas PUPR Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) Provinsi Sumatera Utara diduga menjadi “lahan basah” untuk melakukan korupsi.

Pasalnya, tidak sedikit pekerjaan pembangunan Infrastruktur di Kabupaten Paluta yang amburadul dan hancur oleh mutu yang tidak sesuai.

Bacaan Lainnya

Diketahui pembangunan infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di berbagai daerah.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembangunan infrastruktur jalan dianggap sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di Kabupaten Paluta.

Tetapi makna pembangunan infrastruktur sepertinya bertolak belakang dengan pembangunan jalan di daerah Kabupaten Padang Lawas Utara, dinilai tidak memberi manfaat yang kelak dirasakan masyarakatnya secara masif.

Salah satunya, pekerjaan rehabilitasi jalan jurusan Desa Sipaho Kecamatan Halongonan. Dengan nilai anggaran 1.4 miliar, hasilnya asal jadi dan kondisinya sudah hancur.

Tidak sampai di situ, bangunan infrastruktur tersebut pun diduga sudah menjadi temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) wilayah Sumatera Utara.

Pengerjaan yang dilaksanakan oleh CV. AN berdasarkan kontrak Nomor 620/3767/PPK/2016 tanggal 13 September 2016 senilai Rp 1.488.130.000.00

Tidak ada addemdum atas kontrak pekerjaan tersebut, jangka waktu pelaksanaan selama 100 hari kalender, sejak tanggal 13 September s.d 21 Desember 2016

Sehingga pekerjaan telah dinyatakan selesai 100% dan telah diserahterimakan berdasarkan berita acara november 2016.

Pembayaran atas pekerjaan tersebut telah dilakukan 100% sebesar Rp 1.488.130.000,00 dengan SP2D nomor 03986/SP2D-LS/1.03.01.01/2016 tanggal 23 november 2016.

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik di lapangan pada tanggal 6 februari 2017 yang dilakukan oleh BPK bersama konsultan pengawas dan PPK menunjukkan bahwa terdapat ketidaksesuain spesifikasi teknis atas penggunaan batu pecah 5-7 yang keyataannya digunakan batu kali serta alat yang digunakan tidak sesuai dengan penawaran.

Maka dilakukan perhitungan ulang dan diperoleh harga terkeroksi (Rincian pada lampiran XI dan XII), sehingga mengurangi nilai kontrak sebesar Rp 76.588.715,06, diantaranya memasang LPB, telford dan memasang Lapen.

Seterusnya ungkapan keluhan dari beberapa masyarakatpun mencuat bahwa mereka meresa kecewa atas kondisi bangunan rehab jalan tersebut, bahwa pembangunan infrastruktur tidak utuh dan terencana diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi warga sipaho.

Salah satunya Parhatian Harahap, selaku warga Sipaho, minggu ( 29/12/19) menyampaikan bahwa masyarakat tidak bisa menikmati jalan tersebut dengan seutuhnya.

“Kualitas ketahanan bangunan jalannya terhitung bulan kemudian kondisinya mulai hancur dan retak, hingga sekarang jalan tersebut sudah hancur, bahkan saat musim hujan menjadi genangan air” ucapnya kesal.

(SS)

Pos terkait